Backpass Adalah: Aturan Law 12, Sanksi dan Contoh Nyata

Backpass adalah operan kaki sengaja dari rekan ke kiper yang tidak boleh dipegang. Simak bunyi resmi Law 12 IFAB, sanksinya, 11 situasi, dan contoh laga nyata.
Jawaban singkat
Backpass adalah operan ke belakang yang sengaja ditendang seorang pemain kepada kipernya sendiri. Menurut Law 12 IFAB, kiper tidak boleh menyentuh bola itu dengan tangan di dalam kotak penaltinya. Pelanggarannya dihukum tendangan bebas tidak langsung untuk lawan, tanpa kartu. Bola dari sundulan, dada, atau pantulan yang tidak disengaja tetap boleh ditangkap.
Aturan back pass kiper adalah salah satu peraturan yang mengubah wajah sepak bola modern secara mendasar. Aturan ini melarang seorang penjaga gawang menangkap atau memegang bola dengan tangan apabila bola tersebut sengaja dioper kepadanya menggunakan kaki oleh rekan satu timnya. Bagi penonton yang baru mengenal sepak bola, aturan ini sering tampak membingungkan karena kiper biasanya identik dengan memegang bola. Artikel ini menjelaskan secara lengkap apa itu back pass, mengapa aturannya diperkenalkan, situasi apa saja yang termasuk pelanggaran, serta sanksi yang dijatuhkan ketika kiper melanggarnya.
Sebelum aturan ini ada, sepak bola sempat menghadapi masalah serius berupa pemborosan waktu yang berlebihan. Tim yang sedang unggul kerap mengoper bola bolak-balik ke kiper, lalu kiper memungutnya dengan tangan dan menahannya selama mungkin. Praktik ini membuat pertandingan menjadi membosankan dan kehilangan tempo. Aturan back pass lahir sebagai jawaban atas persoalan tersebut, dan sejak diberlakukan, gaya bermain sepak bola berubah drastis menjadi lebih cepat dan menyerang.
Apa Itu Aturan Back Pass
Aturan back pass mengatur bahwa seorang penjaga gawang tidak boleh menyentuh bola dengan tangan apabila bola tersebut dengan sengaja ditendang ke arahnya oleh rekan satu tim. Istilah back pass secara harfiah berarti operan ke belakang, yaitu ketika pemain bertahan mengoper bola kembali ke kipernya sendiri. Inti aturan ini adalah membedakan antara operan yang menggunakan kaki dan bagian tubuh lain. Jika bola dioper dengan kaki secara sengaja, kiper hanya boleh memainkannya dengan kaki, bukan tangan.
Aturan ini tercantum dalam Laws of the Game dari IFAB, badan resmi pembuat aturan sepak bola dunia. IFAB menjelaskan bahwa kiper dihukum tendangan bebas tidak langsung bila menyentuh bola dengan tangan atau lengan setelah bola sengaja ditendang kepadanya oleh rekan setim, atau langsung dari lemparan ke dalam rekan setim. Rangkuman sejarah Back-pass rule mencatat aturan ini diperkenalkan pada 1992 untuk mengurangi pola buang waktu. Dengan adanya larangan ini, kiper dipaksa ikut bermain dengan kaki, sehingga tempo pertandingan tetap terjaga.
Bunyi Resmi Law 12 IFAB tentang Backpass
Definisi paling sahih datang dari IFAB, badan yang menulis Laws of the Game. Redaksi mengecek Law 12 edisi terbaru di situs resmi IFAB pada 11 Oktober 2026. Klausa backpass ada di Law 12.2 (tendangan bebas tidak langsung). Isinya, dalam terjemahan bebas Redaksi:
Tendangan bebas tidak langsung diberikan bila kiper, di dalam kotak penaltinya sendiri, menyentuh bola dengan tangan atau lengan setelah (a) bola sengaja ditendang kepadanya oleh rekan setim, atau (b) ia menerima bola langsung dari lemparan ke dalam rekan setim. Pengecualiannya berlaku bila kiper sudah jelas menendang atau berusaha menendang bola untuk melepaskannya kembali ke permainan.
Dari teks itu ada empat unsur yang harus terpenuhi sekaligus agar wasit meniup peluit:
- Disengaja. Bola dimainkan dengan sengaja ke arah kiper, bukan memantul atau terdefleksi.
- Ditendang. Teks resminya memakai kata kicked, jadi yang dihitung adalah kaki. Sundulan atau dada tidak termasuk, kecuali dipakai sebagai trik untuk mengakali aturan.
- Dari rekan setim. Operan atau tembakan dari lawan bebas ditangkap.
- Di dalam kotak penalti kiper sendiri. Di luar kotak, kiper tidak punya hak memegang bola sama sekali.
Dua penegasan lain ada di bagian tanya jawab resmi halaman yang sama. Pertama, kiper yang hanya mencoba mengontrol operan rekan (bukan menyapu bola), lalu bola memantul dari kakinya dan ia memungutnya, tetap dihukum tendangan bebas tidak langsung, tanpa sanksi disiplin. Kedua, bila kiper berlari keluar kotak penalti dan sengaja menyentuh bola dengan tangan, itu bukan lagi soal backpass melainkan handball biasa. Hukumannya tendangan bebas langsung, ditambah kartu kuning bila menghentikan serangan yang menjanjikan atau kartu merah bila menggagalkan peluang gol yang jelas.
Sejarah dan Latar Belakang 1992
Aturan back pass mulai diberlakukan secara resmi pada tahun 1992. Sebelum itu, kiper bebas memungut bola dengan tangan kapan saja, termasuk ketika bola sengaja dioper kembali oleh rekannya. Kondisi ini dimanfaatkan banyak tim untuk membuang waktu, terutama ketika sedang memimpin pertandingan. Mereka cukup mengoper bola ke kiper, lalu kiper memegangnya dan menahan selama beberapa detik sebelum melepaskannya kembali, dan siklus itu bisa diulang terus menerus tanpa henti.
Puncak keresahan terhadap praktik ini muncul setelah beberapa turnamen besar yang dianggap terlalu lambat dan minim gol. Banyak pengamat dan penggemar menilai sepak bola kehilangan daya tariknya karena terlalu banyak waktu terbuang. IFAB akhirnya memutuskan bahwa aturan harus diubah agar permainan lebih dinamis. Maka lahirlah larangan kiper menangkap bola hasil operan kaki rekan setim, dengan harapan menghilangkan godaan untuk mengulur waktu secara berlebihan.
Perubahan ini sempat menimbulkan kesulitan bagi banyak kiper pada awalnya, karena mereka tidak terbiasa memainkan bola dengan kaki di bawah tekanan. Beberapa pertandingan awal setelah aturan diberlakukan diwarnai blunder lucu ketika kiper kebingungan menghadapi operan dari rekannya. Namun seiring waktu, kiper di seluruh dunia beradaptasi dan kemampuan mengolah bola dengan kaki menjadi keterampilan wajib. Untuk memahami posisi ini lebih dalam, simak juga ulasan kami tentang peraturan dasar sepak bola.
Apa yang Dihitung sebagai Back Pass
Tidak semua operan ke kiper otomatis dianggap sebagai back pass yang terlarang. Ada dua unsur penting yang harus dipenuhi agar sebuah operan masuk kategori pelanggaran. Pertama, bola harus dimainkan dengan sengaja oleh rekan setim, bukan secara kebetulan atau memantul. Kedua, bola harus dimainkan menggunakan kaki, atau lebih tepatnya ditendang. Jika kedua unsur ini terpenuhi dan kiper tetap menyentuh bola dengan tangan, maka pelanggaran terjadi.
Selain operan dengan kaki, aturan juga melarang kiper menangkap bola hasil lemparan ke dalam yang sengaja dilakukan oleh rekan setim. Jadi apabila seorang pemain melakukan lemparan ke dalam dan diarahkan langsung kepada kipernya, kiper tidak boleh memegang bola tersebut dengan tangan. Kedua larangan ini bertujuan menutup celah yang sebelumnya dipakai untuk mengulur waktu, baik melalui operan kaki maupun lemparan ke dalam yang disengaja.
Yang menjadi penentu utama adalah niat dan cara bola dimainkan. Wasit akan menilai apakah pemain bertahan benar-benar bermaksud mengoper bola ke kipernya, atau apakah bola sampai ke kiper karena hal lain. Penilaian terhadap unsur kesengajaan ini terkadang memunculkan perdebatan, sebab membedakan operan sengaja dari sentuhan tidak sengaja tidak selalu mudah. Aturan ini berkaitan erat dengan banyak peraturan lain, sehingga ada baiknya membaca pula peraturan dasar sepak bola sebagai pelengkap pemahaman.
Situasi yang Bukan Pelanggaran
Penting dipahami bahwa kiper masih boleh memegang bola dengan tangan dalam banyak situasi. Jika bola sampai ke kiper karena dimainkan dengan kepala, dada, paha, atau bagian tubuh selain kaki, kiper tetap boleh menangkapnya. Banyak pemain bertahan memanfaatkan celah ini dengan menyundul atau menggunakan dada untuk mengoper bola kembali ke kiper secara sah, sehingga kiper tetap dapat memegangnya tanpa melanggar aturan.
Selain itu, kiper boleh menangkap bola jika operan terjadi secara tidak sengaja. Misalnya ketika seorang pemain bertahan berusaha menyapu bola menjauh tetapi bola justru terarah ke kiper, maka itu bukan back pass karena tidak ada niat mengoper. Begitu pula bola yang memantul dari kaki pemain bertahan akibat tekel atau benturan, biasanya tidak dianggap sebagai operan sengaja sehingga kiper bebas memainkannya dengan tangan.
Kiper juga tetap diperbolehkan memegang bola yang berasal dari lawan. Jika pemain lawan yang menendang bola ke arah area kiper, penjaga gawang berhak menangkapnya tanpa batasan, karena aturan back pass hanya berlaku untuk operan dari rekan satu tim. Pemahaman tentang pengecualian ini membantu penonton membedakan kapan keputusan wasit memang tepat dan kapan situasi sebenarnya tidak melanggar aturan apa pun.
Sanksi Tendangan Bebas Tidak Langsung
Hukuman bagi kiper yang melanggar aturan back pass adalah tendangan bebas tidak langsung untuk tim lawan. Tendangan bebas tidak langsung berarti gol tidak dapat tercipta langsung dari tendangan tersebut, melainkan bola harus terlebih dahulu menyentuh pemain lain sebelum masuk ke gawang. Tendangan ini diberikan dari titik tempat kiper menyentuh bola dengan tangan secara melanggar.
Situasi menjadi sangat menarik ketika pelanggaran terjadi di dalam kotak penalti, yang merupakan kejadian paling umum karena kiper biasanya berada di area tersebut. Dalam kasus seperti ini, tendangan bebas tidak langsung tetap diberikan dari dalam kotak penalti, dan seluruh pemain bertahan biasanya berdiri rapat di garis gawang untuk menghalau bola. Momen ini sering menciptakan peluang berbahaya sekaligus pemandangan yang tidak biasa, dengan banyak pemain berjejer di depan gawang.
Perlu ditekankan bahwa pelanggaran back pass tidak menghasilkan kartu kuning atau kartu merah dengan sendirinya, karena ini murni pelanggaran teknis dan bukan pelanggaran keras. Sanksinya hanya berupa tendangan bebas tidak langsung. Teks resmi Law 12 menyebutnya secara eksplisit: bila kiper memegang bola di kotak penaltinya dalam situasi yang tidak diizinkan, tendangan bebas tidak langsung diberikan tetapi tidak ada sanksi disiplin. Untuk memahami beragam jenis pelanggaran lebih jauh, baca juga cara memahami formasi sepak bola.
Aturan Delapan Detik Kiper: Berlaku Sejak Laws of the Game 2025/26
Bagian ini yang paling sering ketinggalan di penjelasan singkat soal back pass, padahal dampaknya besar bagi kiper. Banyak artikel berbahasa Indonesia menyebut batas kiper memegang bola masih enam detik, atau menyebut aturan delapan detik sebagai kebaruan musim 2026/27. Keduanya keliru, dan Redaksi Berita Bola Daily mengeceknya langsung ke teks resmi IFAB pada 3 Agustus 2026.
Perubahannya terjadi pada edisi Laws of the Game 2025/26, bukan 2026/27. Halaman resmi pengantar edisi tersebut menyatakan Law 12 telah diubah sehingga kiper kini dihukum bila menahan bola lebih dari delapan detik, dengan tendangan sudut untuk tim lawan, setelah uji coba sepanjang musim 2024/25. Mengikuti siklus tahunan IFAB yang memberlakukan tiap edisi mulai 1 Juli, aturan delapan detik ini efektif sejak 1 Juli 2025 dan masih berlaku di edisi 2026/27.
Yang sering menyesatkan adalah cara IFAB menampilkan teks lama. Pada halaman Law 12 edisi 2025/26, klausa menguasai bola lebih dari enam detik memang masih terlihat, tetapi ditampilkan sebagai teks tercoret alias klausa yang dihapus, bukan aturan yang berlaku. Batas enam detik di Law 12.2 sudah dicabut sejak edisi itu, dan penggantinya ada di Law 12.3 dengan sanksi yang jauh lebih menyakitkan. Di edisi 2026/27 yang berlaku sekarang, frasa enam detik sudah hilang sepenuhnya dari teks Law 12.
Isi Law 12.3, sama di edisi 2025/26 dan 2026/27
Tendangan sudut diberikan kepada tim lawan bila kiper, di dalam kotak penaltinya sendiri, menguasai bola dengan tangan atau lengan lebih dari delapan detik sebelum melepasnya. Wasit yang memutuskan kapan hitungan mulai, dan wasit menghitung mundur lima detik terakhir secara visual dengan satu tangan terangkat.
Kiper dianggap menguasai bola ketika bola berada di antara kedua tangan atau lengannya, di antara tangan dan permukaan lain seperti tanah atau tubuhnya sendiri, dipegang di telapak tangan terbuka, dipantulkan ke tanah, atau dilempar ke udara. Selama kiper menguasai bola dengan tangan, lawan tidak boleh menantangnya.
Perbedaan sanksinya penting untuk dipahami penonton. Pelanggaran back pass klasik berbuah tendangan bebas tidak langsung dari dalam kotak penalti, sedangkan mengulur waktu dengan memegang bola terlalu lama sekarang berbuah tendangan sudut. Keduanya sama-sama diatur di Law 12, tetapi keduanya bukan pelanggaran yang sama dan tidak boleh dicampur.
Satu klausa lagi yang jarang dikutip adalah larangan akal-akalan. Law 12.2 menghukum pemain yang memulai trik sengaja agar bola sampai ke kiper lewat kepala, dada, atau lutut demi mengakali aturan, termasuk dari tendangan bebas atau tendangan gawang. Hukumannya tetap tendangan bebas tidak langsung, terlepas dari apakah kiper akhirnya menyentuh bola dengan tangan, dan kipernya sendiri yang dihukum bila dia yang memulai trik tersebut. Law 12.4 menambahkan kartu kuning untuk perilaku tidak sportif pada kasus ini. Jadi mengangkat bola dengan kaki lalu menyundulnya ke kiper bukan celah aturan, melainkan pelanggaran yang berdiri sendiri.
Aturan ini juga melindungi kiper. Lawan yang menghalangi kiper melepaskan bola dari tangannya, atau menendang dan mencoba menendang bola ketika kiper sedang dalam proses melepasnya, dihukum tendangan bebas tidak langsung untuk tim kiper.
Tabel 11 Situasi dan Putusan Wasit
Tabel di bawah memetakan sebelas situasi yang paling sering memicu perdebatan di tribun, lengkap dengan pasal rujukannya di Laws of the Game 2026/27. Simpan halaman ini dan buka lagi saat menonton, karena urutan pertanyaannya hampir selalu sama: siapa yang mengoper, dengan bagian tubuh apa, dan apakah ada unsur kesengajaan.
Catatan verifikasi. Seluruh isi tabel dan kutipan pasal di atas dicocokkan langsung ke teks Law 12 di situs resmi IFAB pada 3 Agustus 2026, untuk edisi Laws of the Game 2026/27 dan 2025/26, termasuk halaman resmi daftar perubahan edisi 2025/26. Pada edisi 2025/26 teks enam detik dibaca sebagai klausa tercoret alias sudah dihapus, bukan aturan berlaku. Kompetisi tertentu bisa punya modifikasi lokal, jadi cek juga regulasi kompetisi yang sedang Anda tonton.
Contoh Situasi di Lapangan
Bayangkan seorang bek yang sedang ditekan oleh penyerang lawan memutuskan mengoper bola dengan kakinya kembali ke kiper untuk mengamankan situasi. Jika kiper kemudian menangkap bola itu dengan tangan, wasit akan langsung meniup peluit dan memberikan tendangan bebas tidak langsung kepada tim lawan. Inilah contoh paling klasik dari pelanggaran back pass yang sering kita saksikan di pertandingan.
Sebaliknya, bayangkan situasi ketika bek yang sama justru menyundul bola ke arah kiper karena umpan datang dari udara. Dalam kasus ini, kiper boleh menangkap bola dengan tangan karena bola dimainkan dengan kepala, bukan kaki. Perbedaan kecil semacam inilah yang menentukan apakah sebuah aksi termasuk pelanggaran atau tidak, dan sering kali menjadi sumber perdebatan di antara penonton yang kurang memahami detail aturannya.
Contoh nyata: Chelsea vs Aston Villa, Premier League, 1 Desember 2024
Kasus backpass terbaru yang terdokumentasi di liga top terjadi di Stamford Bridge. Menurut laporan ESPN Deportes, pada menit ke-22 bek Aston Villa Pau Torres mengoper bola ke kiper Emiliano Martínez. Martínez yang ditekan Enzo Fernández lalu memegang bola itu dengan tangan, dan wasit langsung memberi tendangan bebas tidak langsung untuk Chelsea di dalam kotak penalti Villa. Cole Palmer mengeksekusinya, dan Martínez menebus kesalahannya dengan penyelamatan. Chelsea tetap menang 3-0 lewat gol Nicolas Jackson, Enzo Fernández, dan Palmer.
Kejadian ini merangkum seluruh isi Law 12.2: operan disengaja, dimainkan dengan kaki, datang dari rekan setim, dan disentuh tangan di dalam kotak penalti. Hukumannya pun persis seperti teks resmi, yaitu tendangan bebas tidak langsung, bukan penalti.
Contoh sejarah: Euro 1992, turnamen besar terakhir sebelum aturan ini
Menurut rangkuman sejarah back-pass rule, Piala Dunia 1990 dikritik luas karena membosankan, penuh operan ke belakang dan kiper yang menahan bola untuk mengulur waktu. Aturan ini diuji coba di Kejuaraan Dunia U-17 1991, lalu resmi diadopsi IFAB dan FIFA pada Mei 1992. Euro 1992 menjadi turnamen terakhir yang dimainkan sebelum aturan backpass berlaku.
Dampak terhadap Permainan Modern
Aturan back pass membawa dampak besar terhadap evolusi peran kiper. Sejak aturan ini berlaku, kiper tidak lagi cukup hanya pandai menangkap dan menepis bola. Mereka harus mahir mengolah bola dengan kaki, mengoper dengan akurat, dan bahkan ikut membangun serangan dari belakang. Konsep kiper modern yang aktif terlibat dalam penguasaan bola sebagian besar lahir dari konsekuensi aturan ini.
Dampak lainnya terlihat pada cara tim membangun serangan. Banyak tim kini menerapkan permainan dari lini belakang yang melibatkan kiper sebagai titik awal serangan. Kiper sering menjadi opsi operan tambahan ketika pemain bertahan tertekan, sehingga kemampuan teknis penjaga gawang menjadi aset penting dalam taktik tim. Tanpa aturan back pass, pendekatan taktik semacam ini mungkin tidak pernah berkembang seperti yang kita lihat sekarang. Aturan ini juga berhubungan dengan situasi bola mati seperti cara membaca statistik sepak bola yang sering melibatkan distribusi bola oleh kiper.
Kesalahpahaman Umum
- Mengira semua operan ke kiper terlarang. Padahal hanya operan dengan kaki yang sengaja yang dilarang dipegang dengan tangan.
- Mengira sundulan ke kiper melanggar aturan. Padahal bola yang dimainkan dengan kepala atau dada boleh ditangkap.
- Mengira pelanggaran back pass selalu berbuah kartu. Padahal sanksinya hanya tendangan bebas tidak langsung.
- Mengira kiper boleh memegang bola dari lemparan ke dalam rekan. Padahal lemparan ke dalam yang sengaja ke kiper juga dilarang dipegang.
- Mengira bola pantulan dianggap back pass. Padahal bola yang sampai ke kiper tanpa unsur kesengajaan biasanya tidak dihukum.
Sebagian besar perdebatan seputar back pass berakar dari kesalahpahaman sederhana di atas. Dengan memahami detailnya, Anda dapat menilai keputusan wasit secara lebih objektif dan menjelaskan kepada orang lain mengapa sebuah situasi termasuk pelanggaran atau tidak. Pengetahuan ini akan membuat pengalaman menonton sepak bola terasa jauh lebih kaya dan menyenangkan.
FAQ Aturan Back Pass
Apa itu aturan back pass kiper?
Aturan back pass melarang kiper menyentuh bola dengan tangan apabila bola sengaja dioper kepadanya menggunakan kaki oleh rekan satu tim. Jika dilanggar, lawan mendapat tendangan bebas tidak langsung.
Kapan aturan back pass mulai diberlakukan?
Aturan ini mulai diberlakukan secara resmi pada tahun 1992 oleh IFAB, dengan tujuan utama menghentikan praktik mengulur waktu yang dilakukan tim dengan terus mengoper bola ke kiper untuk ditahan dengan tangan.
Apakah kiper boleh menangkap bola hasil sundulan rekan?
Boleh. Aturan back pass hanya melarang bola yang dimainkan dengan kaki. Jika rekan setim mengoper dengan kepala, dada, atau paha, kiper tetap boleh menangkap bola dengan tangan tanpa melanggar.
Apa hukuman bagi kiper yang melanggar aturan back pass?
Hukumannya adalah tendangan bebas tidak langsung untuk tim lawan dari titik pelanggaran. Jika terjadi di dalam kotak penalti, tendangan tetap dilakukan dari dalam kotak tersebut. Tidak ada kartu yang otomatis diberikan.
Apakah kiper boleh memegang bola dari lemparan ke dalam?
Tidak boleh jika lemparan ke dalam sengaja diarahkan ke kiper oleh rekan setim. Sama seperti operan kaki, bola dari lemparan ke dalam rekan tidak boleh ditangkap kiper dengan tangan.
Apakah bola pantulan dianggap sebagai back pass?
Umumnya tidak. Jika bola sampai ke kiper karena memantul atau karena sentuhan yang tidak disengaja, kiper boleh memegangnya dengan tangan karena tidak ada unsur kesengajaan mengoper.
Berapa lama kiper boleh memegang bola pada musim 2026/27?
Delapan detik. Law 12.3 memberi tendangan sudut untuk tim lawan bila kiper menguasai bola dengan tangan lebih dari delapan detik di dalam kotak penaltinya, dan wasit menghitung mundur lima detik terakhir dengan satu tangan terangkat. Batas ini sudah berlaku sejak edisi 2025/26 dan tidak berubah di edisi 2026/27.
Sejak kapan aturan delapan detik kiper berlaku?
Sejak edisi Laws of the Game 2025/26, yang efektif 1 Juli 2025, bukan mulai musim 2026/27. Halaman resmi daftar perubahan edisi 2025/26 di situs IFAB mencantumkan penggantian sanksi enam detik menjadi tendangan sudut setelah delapan detik sebagai salah satu perubahan Law 12 pada edisi tersebut.
Apakah aturan enam detik untuk kiper masih berlaku?
Tidak. Klausa enam detik di Law 12.2 sudah dicabut sejak edisi 2025/26. Kalau Anda membuka halaman Law 12 edisi 2025/26 dan masih melihat frasa enam detik, itu ditampilkan sebagai teks tercoret alias klausa yang dihapus, bukan aturan yang berlaku. Penggantinya adalah batas delapan detik di Law 12.3 dengan sanksi tendangan sudut, bukan tendangan bebas tidak langsung.
Apakah menyundul bola ke kiper setelah mengangkatnya dengan kaki itu legal?
Tidak legal. Law 12.2 menyebutnya trik sengaja untuk mengakali aturan, dan hukumannya tendangan bebas tidak langsung terlepas dari apakah kiper menyentuh bola dengan tangan. Law 12.4 menambahkan kartu kuning untuk perilaku tidak sportif.
Backpass adalah apa dalam sepak bola?
Backpass adalah operan ke belakang yang sengaja ditendang seorang pemain kepada kipernya sendiri. Menurut Law 12 IFAB, kiper tidak boleh menyentuh bola itu dengan tangan di dalam kotak penaltinya. Pelanggarannya dihukum tendangan bebas tidak langsung untuk lawan, tanpa kartu. Bola dari sundulan, dada, atau pantulan yang tidak disengaja tetap boleh ditangkap.
Bagaimana jika kiper gagal menyapu bola lalu menangkapnya?
Law 12 edisi terbaru memberi pengecualian: kiper tidak dihukum bila sudah jelas menendang atau berusaha menendang bola untuk melepaskannya ke permainan. Kalau kiper hanya mencoba mengontrol operan rekan lalu memungut bola, wasit tetap memberi tendangan bebas tidak langsung tanpa kartu.
Apa contoh pelanggaran backpass di pertandingan nyata?
Chelsea vs Aston Villa di Premier League, 1 Desember 2024. Pau Torres mengoper bola ke kiper Emiliano Martínez, yang lalu memegangnya dengan tangan. Wasit memberi tendangan bebas tidak langsung untuk Chelsea di dalam kotak penalti Villa, sesuai laporan ESPN Deportes.
Ingin mencoba konsepnya secara praktis? Gunakan squad builder dan spin wheel bola gratis di Berita Bola Daily.
Istilah Terkait Backpass
Backpass bersinggungan dengan banyak istilah lain di sekitar kiper dan lini belakang. Daftar lengkapnya ada di glosarium istilah sepak bola, dan beberapa yang paling dekat:
- Buang waktu (time wasting): alasan utama aturan backpass dan batas delapan detik dibuat.
- Build up play dari belakang: gaya bermain yang tumbuh karena kiper wajib piawai dengan kaki.
- Blunder kiper: salah kontrol saat menerima operan rekan sering berujung gol lawan.
- Clearance atau sapuan bek: sapuan yang tidak sengaja mengarah ke kiper bukan backpass.
- Peraturan dasar sepak bola: gambaran besar 17 Laws of the Game.
Kesimpulan
Aturan back pass kiper adalah peraturan yang sederhana dalam prinsip namun besar dampaknya bagi sepak bola modern. Inti aturannya adalah melarang kiper memegang bola yang sengaja dioper dengan kaki oleh rekan setim, dengan sanksi berupa tendangan bebas tidak langsung. Diperkenalkan pada tahun 1992 untuk menghentikan pemborosan waktu, aturan ini berhasil membuat permainan menjadi lebih cepat sekaligus mengubah peran kiper menjadi jauh lebih aktif.
Dengan memahami batasan dan pengecualiannya, Anda akan lebih mudah menilai keputusan wasit dan menikmati pertandingan secara lebih cerdas. Pelajari lebih banyak edukasi sepak bola di Berita Bola Daily, termasuk peraturan dasar sepak bola dan cara memahami formasi sepak bola, untuk menjadi penonton yang semakin paham.
Ringkasan Cepat Sebelum Anda Menonton
Tabel ringkas berikut adalah versi tiga baris dari tabel besar di atas, untuk dibuka cepat lewat ponsel saat pertandingan sedang berjalan.
Kunci membaca aturan
Selalu cocokkan contoh dengan regulasi resmi kompetisi yang sedang berlangsung karena detail penerapan dapat berbeda.